Tuesday, September 6, 2011

Mengenal 10 kesalahan ketika seseorang jatuh cinta

Banyak orang yang bertanya-tanya kesalahan apa yang dilakukan sehingga setiap kali menjalin cinta selalu berakhir dengan kegagalan. Jatuh cinta memang berjuta rasanya.
Tidak jarang orang yang sedang jatuh cinta melupakan hal-hal mendasar yang sebetulnya penting untuk diperhatikan.
Ada baiknya memang mengkaji ulang semuanya dan belajar dari kesalahan yang telah dilakukan agar hubungan cinta yang barunya nanti akan bisa berjalan dengan baik.
Berikut ini 10 kesalahan yang kerap dilakukan ketika seseorang jatuh cinta1. Menciptakan hubungan asmara tanpa membangun persahabatan dengannya.
Kala sedang jatuh cinta, kita tentu akan merasakan perasaan sayang yang sangat mendalam. Tapi yang perlu diingat, jangan lupa luangkan waktu sedikit banyak untuk mengetahui atau memperhatikan apa yang sesungguhnya ia inginkan atau ia perlukan. Sisihkan waktu untuk mempelajari kepribadiannya dan bukan hanya fisik semata
2. Tidak jujur kepada diri sendiri.
Seringkali orang yang sedang jatuh cinta memberikan batas toleransi yang berlebihan kepada pasangan. Mereka berpura-pura seolah-olah sikap pasangan bukan merupakan gangguan yang besar pada diri mereka atau mereka berharap agar masalah itu selesai seiring dengan berlalunya waktu. Segala kesalahan-kesalahan yang diciptakan pasangan juga bukan sebuah persoalan besar yang padahal ini sewaktu-waktu akan menjadi bom waktu yang akan membuat hubungan tersebut tidak lagi berjalan normal.
3. Kurang memperhatikan diri sendiri selama menjalin hubungan asmara.
Banyak orang yang lupa memperhatikan dirinya sendiri selama menjalin hubungan asmara. Kebanyakan orang yang sedang dimabuk cinta ingin selalu berduaan dengan kekasihnya. Sebentar-bentar rasa kangen mendera. Meski sudah menelpon dan juga bertemu beberapa waktu kemudian seakan lupa dan ingin sekali bertemu. Akibatnya orang-orang di sekitar mereka merasa diabaikan sehingga lambat laun tanpa mereka sadari teman-teman pun menjauh. Ini mempunyai akibat yang buruk di masa mendatang. Kita akan dicap kuper dan bila kita sedang jenuh bersama sang kekasih, tidak ada seorang teman pun yang bersama dengan kita.
4. Menggantungkan kebahagiaan diri kita ke pasangan.
Jika selama ini kita berpikir bahwa kebahagiaan kita bergantung pada pasangan, maka kita salah. Kita boleh jatuh cinta pada siapa saja namun tidak berarti bahwa orang tersebut dapat membuat kita bahagia. Kebahagiaan diri kita bergantung pada kita sendiri dan jangan sesekali kita memusatkan seluruh hidup dan perhatian hanya pada satu orang saja karena jika demikian, berarti kita telah menutup wawasan dan kesempatan untuk menjadi lebih baik bagi diri kita sendiri.
5. Cinta membutuhkan waktu.
Seringkali seseorang lupa akan point yang penting ini. Cinta selalu membutuhkan waktu, baik untuk mengenal maupun untuk bertumbuh. Terlalu cepat memulai suatu hubungan berakibat kurang baik karena mungkin kita belum mengenal dengan baik karakter pasangan. Karena itu sebaiknya beri waktu yang cukup bagi diri sendiri untuk mengenal pasangan.
6. Terlalu fokus pada sex.
Kita harus menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang senang menjadi objek sex. Jangan jadikan sex sebagai prioritas suatu hubungan, sebaliknya jadikan sex hanya sebagai pemanis dalam hubungan berdua (dengan catatan sex hanya boleh di lakukan bagi mereka yang sudah terikat oleh pernikahan). Terlebih pasangan mana yang ingin calonnya sudah rusak. Fokuskan perhatian kita dalam membangun jalinan asmara yang solid bersamanya. Buatlah rencana yang jelas untuk masa mendatang.
7. Berkencan tanpa tujuan yang jelas.
Kencan memang merupakan aktivitas yang seru dan menyenangkan, namun jika kita tidak mempunyai tujuan yang jelas dan tidak tahu apa yang kita cari atau kita inginkan maka cepat atau lambat hal ini akan membuat diri kita menjadi lelah baik secara fisik maupun mental. Jadi lebih baik tentukan dahulu apa yang kita cari dari suatu hubungan asmara dan apa yang kita inginkan dari calon pasangan.
8. Tinggalkan prinsip bahwa sex dapat menyelesaikan semua masalah.
Walaupun kamu bersedia menyerahkan diri seutuhnya kepada pasangan, tidak menjamin bahwa pasangan akan setia atau tidak akan meninggalkan kita. Segera ubah pola pikir kita. Jangan biarkan diri kita dibodohi dengan iming-iming jika kita bersedia melakukan hubungan sex maka pasangan akan semakin mencintai kita. Itu justru membuktikan bahwa pasangan tidak mencintai kita dan hanya menginginkan kesenangan semata.
9. Memprioritaskan kecantikan fisik.
Ini juga merupakan salah satu hal yang kerap terjadi. Umumnya kecantikan fisik menduduki skala prioritas utama dari pada kecantikan batin. Padahal kecantikan batin jauh lebih bermanfaat dan tahan lama.
10. Kembali melakukan kesalahan yang sama.
Pernahkah kita mengintrospeksi diri mengenai kegagalan asmara kita di masa lalu? Sebelum memulai hubungan yang baru, ada baiknya kita mengintrospeksi diri dan melihat kembali dimana kesalahan kita. Dengan mengetahui letak kesalahan, kita dapat belajar untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

Keluarga Menentukan Prestasi dan Kepribadian Seorang Remaja

YOGYAKARTA – Di Indonesia, peran keluarga sangat menentukan prestasi dan perkembangan anak di usia remaja. Adanya interaksi anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya menyebabkan seorang anak lebih mengetahui perannya sebagai individu dan makhluk sosial. Hal tersebut berbeda dengan konsep psikologi barat yang menitikberatkan perkembangan kepribadian remaja berdasarkan lingkungan teman sekitarnya. “Berbeda dengan psikologi barat, di Indonesia perkembangan kepribadaian dan prestasi seorang remaja ditentukan oleh keluarga. Tidak hanya remaja, namun dari masa anak remaja hingga memasuki masa awal dewasa,” kata pakar psikologi klinik Fakultas Psikologi UGM, Dr. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., kepada wartawan, Jumat (17/6).
Menurut Kwartarini, tidak semua konsep psikologi barat dapat diaplikasikan di Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan pengembangan psikologi yang sesuai dengan kondisi masyarakat lokal. Dari hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Psikologi terhadap 3.000 remaja di Yogyakarta dan berbagai kota di Indonesia, ditemukan bahwa seorang remaja akan menemukan dan merasakan kebahagiaan dalam dirinya setelah berkumpul dengan seluruh anggota keluarga, terutama kehadiran ayah dan ibu. “Hasil itu kita dapat dari penelitian yang kita lakukan terhadap para siswa SMP, SMA, dan mahasiswa,” katanya.

Ditambahkan Kwartarini, pengawasan orang tua dirasakan sangat penting dalam menyeleksi sumber informasi yang diperoleh anak karena saat ini informasi lebih mudah didapatkan, antara lain, melalui situs jejaring sosial dan media teknologi informasi. “Sebaiknya orang tua mengetahui informasi yang baik dan dibutuhkan oleh sang anak karena makin banyak informasi yang masuk ke anak menyebakan otak mereka kelelahan,” tuturnya. Di samping itu, keberadaan orang tua juga mampu meredam dan mengendalikan emosional seorang anak yang lebih menjadi pemarah akibat banyaknya tuntutan dan kompetisi di lingkungannya.

Untuk memberikan edukasi kepada orang tua dan guru tentang berbagai upaya optimalisasi talenta anak dan cara pengukuran bakat yang modern, Kwartarini didampingi dua orang panitia pelaksana mengatakan Fakultas Psikologi berencana akan mengadakan Seminar Pengasuhan Orang Tua Cerdas dan Guru Hebat untuk Anak Multitalenta pada 26 Juni mendatang di Auditorium Fakultas Psikologi. Selanjutnya, di tempat yang sama akan diselenggarakan pula Seminar ‘Psychology of Nation’. (Humas UGM/Gusti Grehenson)