Wednesday, March 24, 2010

KESAKSIAN MANTAN NAPI NARKOBA Kota Palu

SALAM,
Nama saya Rhere (Nama samaran), kawan-kawan saya biasa memanggil saya Rhe. Saya lahir di Palu pada 1977. Saya adalah seorang penggemar sepak bola yang hidup ditengah keluarga sederhana. Saya mulai mengenal Narkoba pada kelas 1 SMA, sekitar tahun 1994. Pada waktu itu usia saya sekitar 17 tahun. Jenis Narkoba yang pertama kali saya lihat yaitu jenis Ganja. Awal mulanya ganja saya dapatkan dari teman yang berasal dari luar kota yang juga sering kumpul bersama teman-teman se-geng. Setiap kali teman tersebut datang ketempat kumpul kami dia selalu membagi-bagikan ganja secara gratis kepada kami. Meski tidak semua teman kebagian paket tersebut namun lama kelamaan hampir semua kawan-kawan saya yang berjumlah sekitar 15-an orang mulai mengkonsumsi ganja. Pertama kali menggunakan ganja saya merasa pusing-pusing, namun lama kelamaan saya mulai terbiasa menggunakannya. Kurang lebih sekitar 3 bulan sejak pertama kali pake, saya mulai kecanduan dan selalu berusaha mendapatkannya dari teman yang pertama kali memberikan. Bukan hanya ganja, saya juga beberapa kali mengkonsumsi sabu-sabu yang saya dapatkan dari teman yang lain. Setelah sekitar 4 bulan, barang tersebut tidak gratis lagi tapi beli. Hingga akhirnya saya juga mulai menjadi seorang pengedar karena tidak punya uang untuk terus membeli ganja. Selain itu tidak jarang pula uang untuk bayar SPP sekolah dan kuliah pun saya gunakan untuk beli ganja atau sabu. Saya pun mulai masuk ke dalam jaringan peredaran gelap narkoba. Tidak sedikit dari teman-teman saya yang se-geng juga terjebak oleh kondisi seperti yang saya alami. Setelah kurang lebih 4 tahun bergelut dengan urusan narkoba akhirnya pada tahun 1999 saya tertangkap bersama beberapa teman. Saat itu saya berstatus sebagai seorang mahasiswa semester 3. Saya menjalani masa hukuman selama 7 bulan. Hidup jadi seperti tidak berguna, masa depan serasa hancur, Frustasi, Depresi, putus asa, dan tidak punya semangat hidup lagi. Setiap harinya saya selalu sangat berharap mendapat kunjungan dari siapapun, terutama kedua orang tua saya. Selama 2 bulan pertama menjalani hukuman saya sangat pasrah dengan apapun yang akan terjadi, bahkan mati sekalipun lebih baik sekiranya itu dapat mengakhiri tekanan batin saya. Namun, dukungan kedua orang tua dan keluarga serta teman-teman yang sering mengunjungi saya menghidupkan kembali semangatku hingga saya merasa TIDAK SENDIRI melewati semuanya. Dan saya akhirnya berhasil melalui 7 bulan itu meski saya merasa merasa itu seperti 17 tahun lamanya.

Setelah keluar dari penjara, saya pun kembali ke dunia dimana saya harus menerima kenyataan bahwa saya merasa begitu Hina sebagai seorang Mantan Narapidana yang tidak mendapatkan tempat lagi dimasyarakat. STIGMA & DISKRIMINASI dr Msyrakat mmbuatku seakan tdk punya tmpat Lg diDunia ini. Sempat terbersit keraguan dan rasa tidak percaya diri untuk bisa kembali lagi ke lingkunganku dan terutama di keluargaku. Namun disaat yang sama saya juga ingin membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa saya pasti bisa melewati masa-masa tersulit itu dan siap menghadapi apapun untuk mengembalikan semua yang telah direnggut oleh Narkoba. Hingga akhirnya, dengan berupaya setegar mungkin saya kembali melanjutkan kuliah dengan semangat baru dan mencoba untuk bangkit dengan berbekal sedikit SPIRIT serta dukungan dari segenap keluarga dan beberapa sahabat dekat saya.

Waktu terus berlalu dan usaha keras saya mulai menunjukkan hasil. Setelah kembali ke bangku kuliah, saya pernah menjabat sebagai ketua dari salah satu lembaga seni di kampus. Hingga akhirnya, pada tahun 2006 saya berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar Sarjana Hukum. Sejak saat itu saya aktif berorganisasi yang kemudian membawa saya bergabung dengan sebuah komunitas yang didirikan oleh para mantan pengguna maupun pengedar Narkoba yang bernama Komunitas Masyarakat Anti Narkoba (KOMANDO) SULTENG yang sekarang lebih dikenal dengan nama AIDS SUPPORT CENTER (ASC) SULTENG, yaitu salah satu LSM yang bergerak dibidang Pencegahan Narkoba dan Penanggulangan HIV/AIDS di Sulawesi Tengah. Dan, saat ini (2009) saya menjabat sebagai Koordinator Divisi Advokasi & Kampanye serta aktif bersama AIDS SUPPORT CENTER (ASC) dalam berbagai kegiatan penyuluhan yang berhubungan dengan permasalahan narkoba dan HIV/AIDS.

Harapan saya yaitu :
Saya berharap kepada kita semua, terutama kepada aparat hukum agar mulailah untuk merubah model penanggulangan Narkoba dengan cara : Merubah sedikit saja cara pandang kita dengan mulai melihat permasalahan ini secara lebih MANUSIAWI, karena tidak semua dari kami adalah Penjahat. Kami masih sangat ingin kembali menjadi baik sekiranya RUANG MANUSIAWI itu telah ada dihati kita semua, sehingga kedepannya tidak akan ada lagi adik-adik saya yang hancur masa depannya karena dikeluarkan dari sekolahnya. Untuk itu saya menghimbau kepada kita semua agar tetap menyuarakan PERANG TERHADAP NARKOBA tetapi tidak MEMERANGI ORANGNYA sepanjang dia adalah pengguna, dan masih ingin kembali & Hindari Hiv/Aids tnpa hrus MENJAUHI ORANGnya.
TERKHUSUS UNTUK TEMAN YANG HIDUP DGN HIV:
Jangan lagi ada tangisan & air mata
Jangan lagi ada luka
Jangan lagi ada jeritan
Dan, jangan lagi ada keputusasaan,
Karena "KAU TAK SENDIRI, SOBATTT....skali Lg,,,"KAU TAK SENDIRI"

0 comments:

Post a Comment