Friday, March 30, 2012

Secarik Kain Merah


-->


Aku pernah membaca cerita ini. Seorang anak lelaki yang rela menolong orang-orang saat dirinya sendiri terancam maut. Ahsan menataplukisan itu dengan seksama, sebuah lukisan yang menggambarkan seorang anak lelaki muda menggenggam secarik kain merah. Ahsan meraba lukisan itu, dan terasa betapa kasarkanvas yang disentuhnya.
            Menyusuri jalan setapak, melewati gang-gang dan rumah disekitarnya yang tidak tersusun rapi.  “Sangat indah bila dilukiskan menjelang sore hari”,pikirnya. Ahsan memasuki sebuah rumah yang sangat sederhana. Mandi,mengganti pakaian dan kembali bersandar dikursi belajarnya. Kursi tua pemberian sang kakek.
            “San, kenapa melamun?” Tanya fandi,kakaknya . Kakaknya adalah seorang photographer.
            Ahsan menoleh kearah kakaknya.
            “Apa anak-anak palestina begitu menderitanya?” tanya ahsan dengan wajah sedih
            “Waktu itu dan sekarang anak-anak palestina tetap menderita, yang hanya bisa mereka lakukan adalah menangis dan ketakukan dalam perang besar”,Jawab kak fandi.
            “Apa tak ada lagi yang bisa menolong mereka,hingga mereka harus menyelamatkan diri mereka sendiri, bahkan menolong orang yang bisa ia tolong, bukankah mereka masih belum kuat?”
            “San,, saat kita masih mampu bergerak, kenapa kita tidak menerjang segalanya? Saat kita masih kuat, kenapa tidak kita menolong orang lain? Saat kita terhimpit dengan kesulitan, kenapa tidak kita membuat sebuah harapan?
            Ahsan begitu terkesima mendengar penjelasan dari kakaknya.
Bahkan burung yang terkurung karena luka, mampukah membebaskan dirinya? Saat semua mengatakan, burung yang luka  pantas untuk dikurung karena mereka tidak bias berbuatapa-apa.Ahsan memandangi burung-burung yang terbang bebas di langit sore yang begitu cerah.
            “Ahsan,, sesuatu itu mungkin mustahil bagi manusia, tapi tidak mustahil bagi Allah s.w.t. Dan yang mesti manusia tau adalah Allah selalu berada diantara kita, dan tak ada satu pun yang mustahil didunia ini, selama kau berusaha. Renungkanlah kata itu, dan Jadikanlah sebagai prinsipmu” kak fandi lalu meninggalkannya seorang diri dikamar, ditemani kicauan burung yang pulang mencari makan.

***


Manusiapun ingin bebas,,,
Saat dirinya menghadapi masalah
Saat dirinya diterjang oleh rasa ketakutan
Dan saat dirinya dalam keadaan terpuruk sekalipun

Ingin menghindar,,,
Tapi tak bisa dalam keadaan itu
Berdoa dan hanya pasrah
Mungkin karena manusia
Adalah hidup
Untuk ditakdirkan.

            Ahsan menulis sebuah puisi diatas pohon yang sangat rindang. Ditemani kicauan burung dipagi hari, dan menghirup udara segar dari atas pohon. Ingin melihat-lihat keindahan pagi ,katanya pada ibu.
            Ahsan tak menyadari, lembar puisinya terjatuh. Seorang bapak paruh baya mengambil kertas itu dan membacanya. Dilihatnya Ahsan yang sedang duduk termenung diatas pohon.
            “Hey, nak. Ini kertasmu terjatuh”.
Ahsan melihat kearah bawah pohon. Namun, dia mengenali sesuatu dari bapak setengah paruh baya itu. Ahsan menuruni pohon dan menghampirinya.
            “Ini kertasmu nak”
Ahsan hanya menatap lengan bapak itu, sebuah kain kecilberwarna merah  yang terikat dilengannya.
            “Ada apa nak”
            “Kenapa bapak harus mengikat kain merah itu ditangan bapak?”
            “Kain ini bukan berwarna merah”
            “Ini jelas berwarna merah pak, kalau bukan warna merah terus dibilang apa?”
Bapak paruh baya itu tersenyum.
            “Kain ini sebelumnya berwarna putih”
            “Apa bapak mewarnainya?”
            “Tidak, ini adalah pemberian kakek bapak”, Bapak tersebut melepas ikatan itu dari lengan dan memegangnya. Persis seperti lukisan yang pernah dilihatnya.
            “Kain ini memang dulunya berwarna putih. Suci dan tulus seperti niat kakek bapak yang ingin menyelamatkan nyawa orang-orang yang dicintainya. Tapi setiap ketulusan pasti akan berakhir dengan pengorbanan”
Ahsan tetap medengar cerita bapak itu.
            “Beberapa puluh dan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu, kakek bapak hendak menolong orang lain. Namun, tangannya terluka bahkan tertembak oleh musuh”.
            “Kakek bapak pejuang?”
            “Ya, dia adalah pejuang tanah air. Dia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa orang lain, dan bahkan dia tidak peduli bahwa saat itu dia mengancam nyawanya sendiri”. Bapak itu menatap ahsan dengan tersenyum
            “Kenapa bapak tersenyum dan kenapa kain itu bisa berada ditangan bapak?”
Bapak itu menganggukan  kepalanya, dan tersenyum kembali
            “Sebelum kematiannya pada hari itu, dia menyerahkan kain ini pada ayah bapak. dia berpesan bahwa kain ini harus diberikan pada generasi selanjutnya, agar semangat juanganya tidak berakhir. Saat itulah, saat kecil bapak diberikan kain ini dan harus dibawa kemanapun bapak pergi. Karena dengan melihatnya, ayah bapak maupun bapak sendiri tau bagaimana sebuah pengorbanan itu dilakukan atas dasar ketulusan. Dan bapak bangga dengan hal itu.Sebuah semangat,keberanian,kesucian serta ketulusan yang mampu untuk merubah keadaan fisik seseorang, bahkan yang terluka sedikitpun”.
            “Dan bahkan tidak memandang usia?”.
            “Tidak nak”.
            “Bagaimana mungkin dengan usia yang masih sangat muda, mereka tak punya kekuatan lebih”.
            “Siapa bilang? Bahkan mereka yang masih sangat muda itulah yang menyimpan semangat yang luar biasa, yang bisa mendatangkan keberanian. Mereka punya kekuatan yang besar yang tersimpan dalam diri dan perkataannya”.
            “Bagaimana mungkin?”
            “Pernahkah kamu berfikir, ketika seorang anak kecil memiliki sebuah cita-cita, ia akan terus mengatakan hal itu dan selalu melakukan hal-hal seperti cita-citanya. Orang disekitarnya akan terpengaruh dan bersemangat jika mendengar cita-cita dan menyiapkan rencana kedepan untuk sang anak dan berharap anak tersebut dapat mencapainya. Dan bukankah saat sang anak melihat orang yang dicintainya terluka, dia akan marah dan melakukan apa saja demi membalas luka orang yang dicintainya itu. Mungkin dia tidak kuat, namun orang yang terluka itu akan bangkit dan tersadar bahwa dia mampu untuk membalaskan lukanya, karena  jeritan bahkan tangisan anak yang dicintainya itu. Bukankah anak yang sangat muda itu menyimpan kekuatan yang lebih untuk membangkitkan semangat orang-orang disekitarnya?”. Bapak itu tersenyum kembali
            Ahsan terdiam sejenak.
            “Tapi aku kasihan pada mereka?”
            “kasihan pada siapa nak?”
            “Anak-anak palestina,apa bapak pernah melihat sebuah lukisan seorang anak yang memegang kain merah saat peperangan palestina dan apakah bapak juga pernah dengar cerita itu?”
            “Bapak tau. Tapi dimana kamu lihat lukisan itu?”
            “Tidak jauh dari sini ada persimpangan jalan, disana banyak lukisan peperangan”
            “Anak bapaklah yang melukisnya, karena dia sangat kagum  dengan sebuah cerita itu”
            “Kenapa bapak tidak memberikan kain itu padanya? Ahsan penasaran
            “Dia bilang, semangat itu akan tumbuh dari sekitarnya yang percaya akan kekuatan dirinya. sebuah kekuatan akan terlahir dari kehebatan yang dimiliki oleh setiap orang. Dan setiap perkataan dari orang yang dicintainya akan dijadikan pegangan dalam hidupnya. Karena itulah bapak tidak memaksanya”.
            “Bukankah itu sangat rugi jika tidak mengambilnya, kain itu adalah sebuah pustaka bagi bapak sendiri bukan? dan orang yang tepat harus memegangnya”.
            Bapak itu lalu mengambil tangan ahsan dan memberikan kain itu padanya.
            “Kenapa bapak memberinya untukku”
            “Kaulah yang pantas menerimanya, karena kau tertarik pada kain itu ”.

Bapak itu memegang kedua pundak ahsan lalu melanjutkan perkataanya
            “Ada saatnya kita memikirkan orang lain,Tapi  sekarang yang harus kau pikirkan adalah dirimu sendiri. Sejauh mana semangatmu untuk membangun negeri menjadi damai, dan tidak membiarkan negaramu mengalami hal seperti anak-anak palestina itu. Dan juga sejauh mana hal yang kau lakukan untuk mencapai cita-citamu itu terwujud, karena hidup memiliki tujuan”.
Setelah mengatakan hal itu, bapak paruh baya itu meninggalkan ahsan yang terdiam menatap kain merah itu.
Hidup memiliki tujuan? Yah benar aku punya cita-cita sejak kecil. Aku ingin menjadi seorang presiden walaupun orang lain mengatakan itu tidak mungkin. Bukankah didunia ini tidak ada yang mustahil selagi berusaha dan mempunyai semangat? Bukankah secarik kain merah ini yang dapat membuktikan semangat anak palestina itu untuk menyelamatkan orang lain, bukankah itu adalah hal yang menurut semua orang tidak mungkin karena melihat fisik dan kekuatannya? Kalau begitu, apa salahnya aku membangkitkan semangatku untuk terus maju mencapainya karena aku juga peduli dengan negaraku.
Kak fandi menghampiri ahsan
“Karena Secarik kain merah itu? “
“Yah, aku sadar dengan dunia. Hidup memiliki tujuan dan aku akan menggapai tujuan itu”.
            Ahsan tersenyum setelah mengatakan hal itu. Angin dipagi hari yang segar menerpa wajahnya disambut kicauan burung dilangit.

-->


BIODATA PENULIS
Nama lengkap   : Nur Komariah
Sekolah              : Smk Negeri 2 Palu
Kelas                  : XI
Jurusan              : Broadcasting
 

0 comments:

Post a Comment