Cerita gue seminggu yang lalu,Pagi ini mulai dari bangun pagi, gue udah mulai mengalami hal-hal yang kalau menurut gue sih hmmm, mending ngak usah dicerita’in. tapi untuk kali ini, gue ceritain deh. (loh katanya tadi ngak mau dicerita’in) hhe :D ia itu sih tadi, sekarang mah kagak. Rumah gue jadi, Home bad home :) . Walaupun kayag gitu, gue ngak bakalan lari dari rumah, *hhe, yaiyalah. Gue ngak punya rumah selain rimah HBH gue.*
Gue ceritain mulai dari pagi, baru mau melek. Gue disuguhi ama festifal satwa liar. Nah, gue jadinya ngak langsung bangun dari tempat tidur. Gue simak aja festifal itu. Adik-adik gue berlarian dalam rumah (yaiyalah ini rumah,Ngak mungkin dilapangan bola :D) ibu gue mengejar mereka. Kalau gue terjemahin, hasilnya seperti ini
Ibu: “mau kemana kalian,,, SINI ! IBU MAU CAMBUK. KEMBALI KALIAN
ADIK2 GW: OGAHHHHHH… KABURRRR !!
Yah,, seperti singa laut yang mau diajakin sirkus tapi kagak mau ikut. Takut masuk angin.
Lanjut…..
Nah, setelah parade sirkus itu selesai, alias festifal satwa liar. Gue baru pura-pura klau saat itu juga gue baru bangun. Nah sialan gile palalu bule. Gue baru sadar. Ternyata lagi mati lampu saat itu. Yaelahh… namanya juga kota palu. Kota romantis gitu. Dan kota yang tidak pernah boros listrik. Soalnya tiap hari pasti ada wilayah yang lampunya dimatiin. Ada yang dimatiin dari pagi ampe malam, ada yang dari siang ampe sore…. *Kembali ke laptop
Terpaksa.terpaksa… nunggu menyala lampu sambil melakukan pekerjaan sambilan. Ambil sapu, lap lantai, ama lap meja. jadi pembokat gitu loh *baru kali ini yah, ada yang jadi pembokat bangga bener. Nah itulah gue. Si raja komputer. :D* (NGAK NYAMBUNG)
Beberapa menit kemudian setelah menyapu sekian detik. Akhirnya selesai (lah kok selesai?) yaiyalah, ibu gue minta sapu. (buat apa?) buat mukulin gue, (YA NGAK LAH) buat nyapu tentunya. Cihuyyyyyyyy,.,., soalnya anaknya yang satu ini mau pergi kekantor cari penghidupan (SOK, banget. Padahal gue cuman psg).
Waktu gue habis mandi, gue nyariin tuh . kaos kaki blasteran indoblack (kenapa dinamain indoblack? Indo gue samain dengan warna putih. Nah black itu tentu hitam …, jadi intinya kaos kaki hitam putih.) kok jadi ribet yah bahasnya *sok mikir*
Karena kaos kaki indoblack gue ngak ketemu, akhirnya gue makai kaos kaki bluedoll. (bagi yang nilai bhs inggrisnya 40 kebawah. Pasti tau ) :D
Gue jadi gak pw ama bluedoll ini. Bukannya ngak mau make cuyy, tapi gue ngak demen ama kaos kaki yang ada bonekanya. Kayag anak sd tau.lagian Sekarang gue kan udah SMK . ESEMKA TAU!!
Akhirnya kedodolan gue terjadi akibat lemari pakaian gue kayak kapal pecah. (Kayagnya lebih parah dari kapal pecah deh) abisnya tuh pakaian kayag mesin cuci. Ngak indah dipandang mata.
Dikantor, temen-teman pada ketawain gue. Abisnya gue kan lucu nan imut gitu. (ya ngak lah, ini gara’’ bluedoll yang gue pake bikin mereka ngakak. Gmana ngak ngakak. Gue yang terkenal lebih keren daripada cowok alias ngak suka make hal yang gituan, ternyata hari ini gue ketahuan make.) *tenangtenang* dalam hati gue marah-marah gak jelas gitu. *kambing sialan… buat gue dodolan hari ini*
“Per. Kenalkan,ini temanku namanya fidi” ujari lham ditengah keramaian pesta. Permana memandang wajah gadis itu dan melontarkan senyuman.
“Kenalan dulu donk per” ujari lham lagi
Permana lalu mengulurkan tangannya
“Permana”
“Fidi” jawab gadis itu dengan sebuah senyuman yang membuat permana menjatuhkan sebuah gelas disampingnya.
“Kamu tidak apa-apa?”Tanya gadis itu.
Permana hanya menggelengkan kepalanya dan berusaha menyadarkan diri
“Kamu kenapa sih Per? Tidak biasa liat gadis cantik yah?Ejek ilham yang disambut sebuah senyuman manis gadis itu.
“Sembarangan kamu, tadi aku mau ambil minum lagi,tapi tidak sengaja lenganku menyenggol gelas yang disampingnya” dalih permana sambil menyambar gelas berisi minuman dimeja.
“Tapi tidak apa-apakan?” Tanya gadis itu kembali
“Tidak apa-apa kok”
“Kalau begitu, aku pergi kesana dulu bareng teman aku yah.”Gadis itu meninggalkan mereka berdua.
Permana kembali menatap
bayang-bayang gadis itu.Hinggar bingar music membuat konsentrasi permana terhadap sang gadis menjadi buyar.
***
“Semalam tuh teman kamu darimana sih,ilham?”
“Teman SMPku dulu.Kenapa kamu Tanya tentang dia? Naksir yah?” goda ilham
“Tidak kok.perasaan kamu aja.Lagian aku tidak pernah liat gadis itu sebelumnya, jadi aku bertanya”.
***
#Seminggu kemudian
Hari itu perasaan Permana tidak karuan alias galau.Kalau sudah begitu sih, biasanya dia menenangkan diri dengan main basket.Tapi sama saja, perasaan tidak karuannya tetap saja menyeruak didalam hati.
“Kenapa sih?,aku tidak biasanya seperti ini” ucap permana dalam hati. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.
“Gadis itu !, ada apa dengan gadis itu?, kenapa duniaku serasa tak menentu karena gadis itu?”kesal permana.
“Itu yang namanya rindu” ilham muncul tiba-tiba.
“Kamu buat aku kaget saja. Tidak mungkin aku rindu sama dia. Lagian aku juga baru kenal, jadi tidak mungkinlah”.
“Terus kenapa kamu bilang duniamu tak menentu karena dia?”Tanya ilham penasaran
Permana berfikir sejenak. “Aku tidak bias hilangkan senyumnya dari ingatanku,”.
Ilham tersenyum dan meninggalkan permana.
“Mau kemana kamu? Tanya permana
“Mau masuk kelas, daaaa”.
***
#keesokan harinya
Permana tetap merasakan ketidak nyamanan pikirannya saat ini. Dia kembali membayangkan gadis itu.“Ahhh, apa-apaan pikiran ini”.
Namun beberapa saat, walikelas Permana masuk kedalam kelas.Semua siswa memandang bu Ria yang muncul dengan gaya ala syahrininya itu.
“Anak-anak, ibu membawakan sesuatu untuk kalian” ujar ibu ria
“Yaahhhhh, Alhamdulillah yah sesuatu.”Sahut anak-anak serempak.Mereka selalu hafal sifat dari walikelas mereka.
“Ini dia, silahkan masuk” Ibu ria mempersilahkan seseorang masuk kedalam kelas.
Loh, itu kan gadis yang waktu itu.Fidi, yah namanya fidi.Permana terkejut dengan kehadiran fidi di kelas itu.
“Nah anak-anak, mulai sekarang fidi menjadi bagian dari kelas kita”
“Nah kamu Permana, sekarang panggil guru yang akan mengajar saat ini, dan bawa buku-buku ibu keruang guru”
“Baik bu” jawab permana lalu menuju meja depan kelas.
Permana mengambil buku-buku itu, dan menoleh kearah fidi.Tanpa sadar buku-buku ibu ria terjatuh dibuatnya.
“Permana, ada apa dengan kamu? tidak biasanya kamu seperti ini”.
Fidi menatap permana, dan ingin membantunya.
“Tidak perlu, dia bias membereskannya sendiri”ujar ibu ria kepada Fidi.
“Maaf bu” ucap permana lalu meninggalkan kelas.
Sepanjang menuju ruang guru, permana merasa jantungnya berdebar tidak karuan.Seolah hatinya tak kuasa menahan rasa di dalam dada.
“Saat seminggu tidak melihatnya, aku merasakan rindu.Mungkinkah itu pertanda cinta?. Ada sesuatu yang berbeda saat aku berjumpa dengannya, hingga aku menjadi salah tingkah .Oh tuhan, inikah rasa cinta?.Namun, sanggupkah aku mendekati dan menjalani hari bersamanya?”.Permana menghela nafas panjang. “Bismillah”.
Hari ini aku berangkat menuju musholla sekolahku, kalian tau tidak? aku ketemu sama orang yang wah,fantastic,Tampangnya sih biasa aja, tapi suaranya itu loh. Wow, keren . aku suka banget denger dia melantunkan adzan. Nah hari ini, aku penasaran banget, siapa sih dia itu?
“Rin, lagi apakamu? Dian menepuk bahu rini
Rini terkejut dan menutup bukunya
“Lagi Nulis” ucapnya.
“Sebentar sore ada pengajian, kamu mau ikut tidak ?
“Oke oke, aku ikut”.
Dian kemudian meninggalkan rini, rini kembali menulis dibuku diary-nya
Denger kabar sih, orang yang adzannya keren itu ikut pengajian setiap sorenya. Itulah kenapa aku memutuskan untuk ikut kegiatan itu. Yah walaupun sebenarnya aku malas keluar rumah.
(Rin,kamu dimana sih? Pengajian sudah mau dimulai nih) sebuah sms masuk di hp rini
“Astaga!” rini bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas berangkat ke tempat pengajian
5 menit kemudian
(Rep: ia, akusudah mau berangkat) sms terkirim ke hp dian
#Sesampainya ditempat pengajian
Rini melewati beberapa orang dalam musholla dan duduk disamping dian
“Kamu dari mana aja sih?”
“Aku baru bangun”
“Ya elah, pantasan jilbab kamu tidak karuan begitu. Terus kamu tidak mandi?”
“Hhe mau gimana lagi. Kalau aku mandi lagi, bakalan tambah terlambat”
“Ya ampun rin” dian menggelengkan kepalanya
“Sudah sampai dimana bacanya?” Tanya rini pada dian
“Sini, nih” dian menunjuk pada surah dan ayat yang dibaca
Seusai pengajian, rini baru tersadar. Ternyata suara yang membimbing anak-anak mengaji itu sangat keren dan dia adalah orang yang rini dengar lantunan adzannya tadi siang
“Dian, Siapa tuh?”
“Itu namanya kak alif, suaranya keren banget. Aku jadi nge-fans deh sama dia” puji dian
Rini menatap semua orang yang ada di musholla dan terkejut.
“Eh, di.Tidak salah tuh? Dista ikut pengajian?”
“Ya tidak salah donk ,kalau atas nama cinta. Dia ikut pengajian sih karena ada ka alif, emmkamu juga, kenapa baru ikut?”
“Itu,,,,” rini tersendat
“Kenapa dista bisa suka sama ka alif, ka alif kan biasa-biasa aja, bukannya dia suka sama cowok yang wah gitu?” rini mengalihkan pembicaraan
Dian melirik rini “Aku juga tidak tau, tapi mereka suka setiap lantunan ayat yang dibaca ka alif, bukannya wanita muslimah itu sukanya sama cowok yang seperti itu? Jadi tidak salah donk ” jawab dian dengan enteng.
Rini pergi membuang air kecil di kamar mandi mushollah
“De” suara itu tertuju pada rini. Rini menoleh kesamping
Rini menatap orang itu,
“Ada apa?”
“Kamar mandinya tidak ada orang kok”
“Loh, tapi pintunya kok kekunci?”
“Kamu dobrak aja dengan kencang, pasti terbuka”orang itu lalu meninggalkan rini.
Seketika itu, rasa buang air kecil rini hilang. Dia lalu menuju ketempat dian yang sedang menunggunya.
“Lama banget sih” kesal dian
“Ya, maaf”
Rini menoleh kearah musholla, sebuah senyuman hangat terarah padanya.
“Ka alif” ucap rini
“Ada apa rin? Tanya dian
“Tidak apa-apa kok?”
Alif melewati mereka. “ Aku diluan yah, assalamu alaikum”
“waalaikum salam” jawab kami berdua
Rini menatap alif yang sedang bejalan
ku tidak menyangka, hanya dengan lantunan ayat bisa membuat orang menyukainya. Aku yakin dia pasti melantunkan ayat itu, benar-benar karena cintanya pada allah. Dan allah pasti membukakan pintu hati bagi setiap orang yang mendengarnya. Subhanallah.
Aku pernah membaca cerita ini. Seorang anak lelaki yang rela menolong orang-orang saat dirinya sendiri terancam maut. Ahsan menataplukisan itu dengan seksama, sebuah lukisan yang menggambarkan seorang anak lelaki muda menggenggam secarik kain merah. Ahsan meraba lukisan itu, dan terasa betapa kasarkanvas yang disentuhnya.
Menyusuri jalan setapak, melewati gang-gang dan rumah disekitarnya yang tidak tersusun rapi. “Sangat indah bila dilukiskan menjelang sore hari”,pikirnya. Ahsan memasuki sebuah rumah yang sangat sederhana. Mandi,mengganti pakaian dan kembali bersandar dikursi belajarnya. Kursi tua pemberian sang kakek.
“San, kenapa melamun?” Tanya fandi,kakaknya . Kakaknya adalah seorang photographer.
Ahsan menoleh kearah kakaknya.
“Apa anak-anak palestina begitu menderitanya?” tanya ahsan dengan wajah sedih
“Waktu itu dan sekarang anak-anak palestina tetap menderita, yang hanya bisa mereka lakukan adalah menangis dan ketakukan dalam perang besar”,Jawab kak fandi.
“Apa tak ada lagi yang bisa menolong mereka,hingga mereka harus menyelamatkan diri mereka sendiri, bahkan menolong orang yang bisa ia tolong, bukankah mereka masih belum kuat?”
“San,, saat kita masih mampu bergerak, kenapa kita tidak menerjang segalanya? Saat kita masih kuat, kenapa tidak kita menolong orang lain? Saat kita terhimpit dengan kesulitan, kenapa tidak kita membuat sebuah harapan?
Ahsan begitu terkesima mendengar penjelasan dari kakaknya.
Bahkan burung yang terkurung karena luka, mampukah membebaskan dirinya? Saat semua mengatakan, burung yang luka pantas untuk dikurung karena mereka tidak bias berbuatapa-apa.Ahsan memandangi burung-burung yang terbang bebas di langit sore yang begitu cerah.
“Ahsan,, sesuatu itu mungkin mustahil bagi manusia, tapi tidak mustahil bagi Allah s.w.t. Dan yang mesti manusia tau adalah Allah selalu berada diantara kita, dan tak ada satu pun yang mustahil didunia ini, selama kau berusaha. Renungkanlah kata itu, dan Jadikanlah sebagai prinsipmu” kak fandi lalu meninggalkannya seorang diri dikamar, ditemani kicauan burung yang pulang mencari makan.
***
Manusiapun ingin bebas,,,
Saat dirinya menghadapi masalah
Saat dirinya diterjang oleh rasa ketakutan
Dan saat dirinya dalam keadaan terpuruk sekalipun
Ingin menghindar,,,
Tapi tak bisa dalam keadaan itu
Berdoa dan hanya pasrah
Mungkin karena manusia
Adalah hidup
Untuk ditakdirkan.
Ahsan menulis sebuah puisi diatas pohon yang sangat rindang. Ditemani kicauan burung dipagi hari, dan menghirup udara segar dari atas pohon. Ingin melihat-lihat keindahan pagi ,katanya pada ibu.
Ahsan tak menyadari, lembar puisinya terjatuh. Seorang bapak paruh baya mengambil kertas itu dan membacanya. Dilihatnya Ahsan yang sedang duduk termenung diatas pohon.
“Hey, nak. Ini kertasmu terjatuh”.
Ahsan melihat kearah bawah pohon. Namun, dia mengenali sesuatu dari bapak setengah paruh baya itu. Ahsan menuruni pohon dan menghampirinya.
“Ini kertasmu nak”
Ahsan hanya menatap lengan bapak itu, sebuah kain kecilberwarna merah yang terikat dilengannya.
“Ada apa nak”
“Kenapa bapak harus mengikat kain merah itu ditangan bapak?”
“Kain ini bukan berwarna merah”
“Ini jelas berwarna merah pak, kalau bukan warna merah terus dibilang apa?”
Bapak paruh baya itu tersenyum.
“Kain ini sebelumnya berwarna putih”
“Apa bapak mewarnainya?”
“Tidak, ini adalah pemberian kakek bapak”, Bapak tersebut melepas ikatan itu dari lengan dan memegangnya. Persis seperti lukisan yang pernah dilihatnya.
“Kain ini memang dulunya berwarna putih. Suci dan tulus seperti niat kakek bapak yang ingin menyelamatkan nyawa orang-orang yang dicintainya. Tapi setiap ketulusan pasti akan berakhir dengan pengorbanan”
Ahsan tetap medengar cerita bapak itu.
“Beberapa puluh dan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu, kakek bapak hendak menolong orang lain. Namun, tangannya terluka bahkan tertembak oleh musuh”.
“Kakek bapak pejuang?”
“Ya, dia adalah pejuang tanah air. Dia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa orang lain, dan bahkan dia tidak peduli bahwa saat itu dia mengancam nyawanya sendiri”. Bapak itu menatap ahsan dengan tersenyum
“Kenapa bapak tersenyum dan kenapa kain itu bisa berada ditangan bapak?”
Bapak itu menganggukan kepalanya, dan tersenyum kembali
“Sebelum kematiannya pada hari itu, dia menyerahkan kain ini pada ayah bapak. dia berpesan bahwa kain ini harus diberikan pada generasi selanjutnya, agar semangat juanganya tidak berakhir. Saat itulah, saat kecil bapak diberikan kain ini dan harus dibawa kemanapun bapak pergi. Karena dengan melihatnya, ayah bapak maupun bapak sendiri tau bagaimana sebuah pengorbanan itu dilakukan atas dasar ketulusan. Dan bapak bangga dengan hal itu.Sebuah semangat,keberanian,kesucian serta ketulusan yang mampu untuk merubah keadaan fisik seseorang, bahkan yang terluka sedikitpun”.
“Dan bahkan tidak memandang usia?”.
“Tidak nak”.
“Bagaimana mungkin dengan usia yang masih sangat muda, mereka tak punya kekuatan lebih”.
“Siapa bilang? Bahkan mereka yang masih sangat muda itulah yang menyimpan semangat yang luar biasa, yang bisa mendatangkan keberanian. Mereka punya kekuatan yang besar yang tersimpan dalam diri dan perkataannya”.
“Bagaimana mungkin?”
“Pernahkah kamu berfikir, ketika seorang anak kecil memiliki sebuah cita-cita, ia akan terus mengatakan hal itu dan selalu melakukan hal-hal seperti cita-citanya. Orang disekitarnya akan terpengaruh dan bersemangat jika mendengar cita-cita dan menyiapkan rencana kedepan untuk sang anak dan berharap anak tersebut dapat mencapainya. Dan bukankah saat sang anak melihat orang yang dicintainya terluka, dia akan marah dan melakukan apa saja demi membalas luka orang yang dicintainya itu. Mungkin dia tidak kuat, namun orang yang terluka itu akan bangkit dan tersadar bahwa dia mampu untuk membalaskan lukanya, karena jeritan bahkan tangisan anak yang dicintainya itu. Bukankah anak yang sangat muda itu menyimpan kekuatan yang lebih untuk membangkitkan semangat orang-orang disekitarnya?”. Bapak itu tersenyum kembali
Ahsan terdiam sejenak.
“Tapi aku kasihan pada mereka?”
“kasihan pada siapa nak?”
“Anak-anak palestina,apa bapak pernah melihat sebuah lukisan seorang anak yang memegang kain merah saat peperangan palestina dan apakah bapak juga pernah dengar cerita itu?”
“Bapak tau. Tapi dimana kamu lihat lukisan itu?”
“Tidak jauh dari sini ada persimpangan jalan, disana banyak lukisan peperangan”
“Anak bapaklah yang melukisnya, karena dia sangat kagum dengan sebuah cerita itu”
“Kenapa bapak tidak memberikan kain itu padanya? Ahsan penasaran
“Dia bilang, semangat itu akan tumbuh dari sekitarnya yang percaya akan kekuatan dirinya. sebuah kekuatan akan terlahir dari kehebatan yang dimiliki oleh setiap orang. Dan setiap perkataan dari orang yang dicintainya akan dijadikan pegangan dalam hidupnya. Karena itulah bapak tidak memaksanya”.
“Bukankah itu sangat rugi jika tidak mengambilnya, kain itu adalah sebuah pustaka bagi bapak sendiri bukan? dan orang yang tepat harus memegangnya”.
Bapak itu lalu mengambil tangan ahsan dan memberikan kain itu padanya.
“Kenapa bapak memberinya untukku”
“Kaulah yang pantas menerimanya, karena kau tertarik pada kain itu ”.
Bapak itu memegang kedua pundak ahsan lalu melanjutkan perkataanya
“Ada saatnya kita memikirkan orang lain,Tapi sekarang yang harus kau pikirkan adalah dirimu sendiri. Sejauh mana semangatmu untuk membangun negeri menjadi damai, dan tidak membiarkan negaramu mengalami hal seperti anak-anak palestina itu. Dan juga sejauh mana hal yang kau lakukan untuk mencapai cita-citamu itu terwujud, karena hidup memiliki tujuan”.
Setelah mengatakan hal itu, bapak paruh baya itu meninggalkan ahsan yang terdiam menatap kain merah itu.
Hidup memiliki tujuan? Yah benar aku punya cita-cita sejak kecil. Aku ingin menjadi seorang presiden walaupun orang lain mengatakan itu tidak mungkin. Bukankah didunia ini tidak ada yang mustahil selagi berusaha dan mempunyai semangat? Bukankah secarik kain merah ini yang dapat membuktikan semangat anak palestina itu untuk menyelamatkan orang lain, bukankah itu adalah hal yang menurut semua orang tidak mungkin karena melihat fisik dan kekuatannya? Kalau begitu, apa salahnya aku membangkitkan semangatku untuk terus maju mencapainya karena aku juga peduli dengan negaraku.
Kak fandi menghampiri ahsan
“Karena Secarik kain merah itu? “
“Yah, aku sadar dengan dunia. Hidup memiliki tujuan dan aku akan menggapai tujuan itu”.
Ahsan tersenyum setelah mengatakan hal itu. Angin dipagi hari yang segar menerpa wajahnya disambut kicauan burung dilangit.
-->